K2_THE_LATEST

HMPS PAI UIN Gus Dur Gelar Musabaqah Qiraatul Kutub Tingkat Umum se-Karesidenan Pekalongan

Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan melalui Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) PAI menyelenggarakan Musabaqah Qiraatul Kutub (MQK) Tingkat Umum se-Karesidenan Pekalongan sebagai bagian dari rangkaian Festival PAI (FESPAI) dalam rangka memperingati Hari Lahir (Harlah) HMPS PAI ke-16. Kegiatan ini menjadi wadah pengembangan tradisi keilmuan Islam sekaligus sarana memperkuat budaya literasi kitab kuning di kalangan generasi muda.

Kompetisi yang berlangsung di lingkungan UIN Gus Dur Pekalongan tersebut diikuti oleh puluhan peserta yang berasal dari berbagai pondok pesantren, madrasah, dan perguruan tinggi di wilayah Pekalongan, Pemalang, Batang, dan daerah sekitarnya. Para peserta berada pada rentang usia 16–21 tahun, mewakili generasi muda yang memiliki minat dan kemampuan dalam membaca, memahami, serta menjelaskan kandungan kitab-kitab klasik Islam.

Oleh: Ahmad Ta’rifin

Judul:              Institutions and Organizations: (Edisi ke-4)

Penulis:           W. Richard Scott

Tahun:            2014

Penerbit:        SAGE Publications

Pernahkah Anda bertanya-tanya mengapa dua sekolah dengan kurikulum yang sama bisa memiliki budaya yang sangat berbeda? Atau mengapa perusahaan rintisan (startup) dan kementerian, meski sama-sama mengurus "organisasi", bertindak seolah-olah mereka berasal dari planet yang berbeda? Jawabannya tidak sederhana. Ia tersembunyi dalam apa yang oleh para ahli disebut sebagai “institusi.”

Dalam bukunya yang monumental, Institutions and Organizations: Ideas, Interests, and Identities, W. Richard Scott—sosiolog legendaris dari Stanford University—mengajak kita menyelami dunia tak kasatmata yang justru paling kuat membentuk perilaku organisasi. Buku ini bukanlah bacaan teknis kering. Ia adalah peta konseptual yang memungkinkan kita membaca realitas sosial di sekitar kita dengan kacamata baru.

Tiga Pilar: Lebih dari Sekadar Aturan

Scott memulai dengan sebuah terobosan besar. Selama puluhan tahun, kita terbiasa berpikir bahwa institusi itu identik dengan peraturan tertulis: undang-undang, kebijakan, atau struktur hierarki. Namun, Scott menunjukkan bahwa institusi berdiri di atas “tiga pilar” yang saling menguatkan.

Pilar pertama “regulatif” —inilah yang paling kita kenal: hukum, sanksi, dan mekanisme kepatuhan. Jika Anda melanggar, ada polisi atau pengadilan yang menanti.

Pilar kedua, normatif.” Ini adalah dunia nilai, harapan, dan kewajiban moral. Mengapa seorang guru rela lembur tanpa bayaran tambahan? Bukan karena takut dipecat, melainkan karena ia memegang nilai profesionalisme. Pilar normatif menjelaskan mengapa kita melakukan sesuatu karena "sudah sepantasnya" dilakukan.

Pilar ketiga adalah yang paling menarik sekaligus paling tak terlihat: “kognitif-kultural.” Ini adalah skema berpikir bersama, kerangka makna yang kita serap begitu saja dari lingkungan. Mengapa kita menganggap ijazah penting? Mengapa kita percaya bahwa rumah sakit harus berwarna putih dan tenang? Itu bukan karena hukum atau moral semata, melainkan karena budaya kita telah "mengajarkan" bahwa begitulah realitasnya. Pilar ketiga inilah yang membuat institusi terasa begitu alami, seolah-olah "tidak mungkin lain".

Scott dengan cemerlang menunjukkan bahwa organisasi yang kuat adalah organisasi yang mampu menyelaraskan ketiga pilar ini. Sebuah universitas tidak hanya punya aturan akademik (regulatif), tetapi juga nilai keilmuan (normatif) dan keyakinan bersama bahwa gelar sarjana adalah penanda kompetensi (kognitif-kultural).

Tiga Kekuatan Pendorong: Ide, Kepentingan, dan Identitas

Judul buku ini menyebut tiga kata kunci: Ideas, Interests, and Identities. Scott tidak sekadar memberi judul menarik. Ia membangun argumen bahwa dinamika organisasi selalu digerakkan oleh tiga kekuatan ini.

Pertama, ide”, yang merupakan seperangkat keyakinan dan pengetahuan yang diterima bersama. Misalnya, gagasan bahwa "manajemen berbasis data" adalah cara terbaik mengelola sekolah. Ide ini lahir, menyebar, dan akhirnya dianggap sebagai kebenaran.

Kedua, “kepentingan”,  yakni apa yang diuntungkan atau dirugikan oleh aktor-aktor di dalam organisasi. Tidak ada organisasi yang bebas konflik kepentingan. Para profesor ingin riset, rektor ingin akreditasi, mahasiswa ingin nilai bagus—semua saling tarik-menarik.

Ketiga, “identitas” adalah yang paling personal: "siapa kita?" dan "apa makna menjadi bagian dari organisasi ini?" Identitas menjelaskan mengapa alumni suatu kampus begitu fanatik, atau mengapa pegawai negeri merasa memiliki panggilan pengabdian.

Scott tidak menyederhanakan. Ia justru menunjukkan bahwa ketiganya selalu berkelindan. Sebuah kebijakan pendidikan (ide) akan gagal jika tidak mempertimbangkan siapa yang diuntungkan (kepentingan) dan bagaimana kebijakan itu mengubah rasa "kita" (identitas).

Proses Pelembagaan: Bagaimana Sesuatu Menjadi "Alami"

Salah satu konsep paling menggugah dari buku ini adalah institutionalization  proses di mana praktik-praktik sosial berubah dari sesuatu yang "aneh" menjadi "begitulah adanya". Scott memetakan proses ini dengan apik.

Ia menunjukkan bahwa pelembagaan tidak terjadi dalam ruang hampa. Ia terjadi dalam apa yang disebut sebagai organizational field (kumpulan organisasi) yang saling terkait pemasok, konsumen, regulator, pesaing yang bersama-sama membangun makna. Misalnya, dunia pendidikan tinggi adalah sebuah field: ada kampus, pemerintah, BAN-PT, dosen, mahasiswa, penerbit jurnal, dan asosiasi profesi. Semua aktor ini, melalui interaksi terus-menerus, menciptakan apa yang dianggap sebagai "praktik baik".

Scott juga memperkenalkan gagasan tentang institutional logics (logika kelembagaan). Setiap field memiliki logika dominannya sendiri. Logika pasar berbeda dengan logika birokrasi, berbeda dengan logika profesional. Ketika dua logika bertabrakan misalnya ketika rumah sakit mulai dikelola seperti perusahaan terjadilah pergulatan yang menarik untuk diamati.

Mengapa Buku Ini Penting bagi Kita?

Bagi pakar dan praktisi manajemen pendidikan, buku ini bukan sekadar bacaan teoretis. Ia adalah pisau bedah untuk membedah realitas sekolah, universitas, dan sistem pendidikan kita. Pertama, buku ini mengajarkan bahwa perubahan organisasi tidak cukup hanya dengan mengubah aturan (regulatif). Kita harus menyentuh nilai (normatif) dan cara berpikir (kognitif). Kedua, Scott mengingatkan bahwa organisasi adalah arena pertarungan kepentingan dan identitas, bukan sekadar mesin pencapai tujuan. Ketiga, buku ini menawarkan optimisme: institusi bisa diubah, karena pada akhirnya ia adalah hasil konstruksi manusia.

Dengan gaya penulisan yang padat namun jelas, Buku Institutions and Organizations telah menjadi rujukan wajib bagi siapa pun yang ingin memahami mengapa organisasi berperilaku seperti yang mereka lakukan. Scott tidak memberi jawaban sederhana, ia memberi kerangka berpikir yang lebih cerdas. Dan itulah, mungkin, kontribusi terbesarnya: membuat kita melihat bahwa di balik gedung, struktur, dan kebijakan, ada dunia ide, kepentingan, dan identitas yang terus bergerak menari dalam ritme yang, jika kita mau mendengarkan, sangat manusiawi.

Kesimpulan singkatnya, buku ini adalah "panduan navigasi" bagi siapa pun yang tersesat dalam kerumitan organisasi modern. Scott berhasil menyajikan teori kelembagaan bukan sebagai menara gading, melainkan sebagai kaca pembesar untuk membaca realitas sehari-hari dari ruang kelas hingga ruang rapat dewan. Sebuah bacaan yang mencerahkan sekaligus membumi.

Perkuat Wawasan Mahasiswa, Prodi PAI UIN Gus Dur Hadirkan Ahli Psikologi Pendidikan UIN Saizu

Sebagai bagian dari upaya memperkaya wawasan akademik mahasiswa, Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan (UIN Gus Dur) menyelenggarakan Kuliah Tamu bertema Psikologi Pendidikan: Berpikir dan Memori pada Senin, 8 Juni 2026. Kegiatan yang berlangsung pukul 11.00–13.00 WIB tersebut diikuti oleh mahasiswa PAI dengan antusias melalui sesi pemaparan materi dan diskusi mendalam.

Kuliah tamu menghadirkan Dr. H. Toifur, S.Ag., M.Si., pakar Psikologi Pendidikan dari UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto. Dalam pemaparannya, beliau menjelaskan bahwa proses berpikir dan memori merupakan dua aspek fundamental dalam pembelajaran yang menentukan bagaimana seseorang menerima, mengolah, menyimpan, dan menggunakan informasi dalam kehidupan sehari-hari maupun proses akademik.

Interaktif dan Kritis, Kuliah Tamu Prodi PAI UIN Gusdur Bahas Masa Depan Evaluasi Pendidikan

Sebagai bagian dari upaya penguatan kompetensi akademik mahasiswa, Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan (UIN Gusdur) menyelenggarakan Kuliah Tamu bertema “Evaluasi Pendidikan: Model Evaluasi Pendidikan PAI Berbasis IT” pada Senin (8/6). Kegiatan yang berlangsung pukul 10.15–12.45 WIB tersebut diikuti oleh mahasiswa dan dosen PAI dengan antusias di lingkungan kampus UIN Gusdur.

Kuliah tamu menghadirkan pakar evaluasi pendidikan, Prof. Dr. H. Rohmad, M.Pd., yang saat ini dikenal sebagai salah satu akademisi terkemuka dalam bidang evaluasi pembelajaran dan pengembangan instrumen pendidikan. Dalam paparannya, beliau menjelaskan berbagai pendekatan evaluasi pendidikan yang relevan dengan perkembangan teknologi informasi di era digital.

Kukuhkan Guru Besar, PAI UIN Gus Dur Tegaskan Relevansi Keilmuan Islam bagi Peradaban

Pekalongan — Universitas Islam Negeri K.H. Abdurrahman Wahid (UIN Gus Dur) Pekalongan kembali menorehkan capaian akademik membanggakan dengan dikukuhkannya tiga dosen sebagai guru besar, yang dua di antaranya merupakan dosen pada Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) sebagai guru besar pada Sabtu, 6 Juni 2026. Pengukuhan tersebut menjadi momentum penting dalam penguatan tradisi akademik sekaligus penegasan kontribusi UIN Gus Dur dalam pengembangan ilmu pengetahuan yang relevan dengan tantangan zaman. 

PAI UIN Gus Dur Gelar Kuliah Tamu Bahas Pengembangan Perangkat dan Materi Ajar PAI SMP Kelas IX

Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan (UIN Gus Dur) menyelenggarakan kuliah tamu mata kuliah Pengembangan Pembelajaran PAI SMP pada Kamis, 4 Juni 2026 pukul 11.00–13.00 WIB. Kegiatan ini menghadirkan Dr. Ali Muhdi, M.S.I., dosen UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri (UIN Saizu) Purwokerto, sebagai narasumber dengan tema “Pengembangan Perangkat dan Materi Ajar PAI SMP Kelas IX”.

Kuliah tamu yang diikuti mahasiswa PAI tersebut bertujuan memperkuat kompetensi calon guru dalam merancang perangkat pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik peserta didik, capaian pembelajaran, serta perkembangan kurikulum pendidikan. Melalui kegiatan ini, mahasiswa memperoleh wawasan praktis mengenai penyusunan modul ajar, perangkat asesmen, media pembelajaran, dan materi ajar yang relevan dengan kebutuhan pembelajaran PAI di tingkat SMP.

Kupas Hukum Keluarga Islam, Dosen PAI UIN Gusdur Isi Kuliah Tamu Pendidikan Fikih di UIN Ar-Raniry

Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan (UIN Gus Dur) kembali berkontribusi dalam penguatan jejaring akademik nasional melalui kegiatan kuliah tamu. Pada Rabu, 3 Juni 2026, dosen PAI UIN Gus Dur, Nunung Hidayati, M.Pd., menjadi narasumber dalam kuliah tamu mata kuliah Pendidikan Fikih yang diselenggarakan oleh Program Studi PAI UIN Ar-Raniry Banda Aceh dengan mengangkat tema “Munakahat”.

Kegiatan yang diikuti mahasiswa PAI UIN Ar-Raniry tersebut berlangsung secara interaktif dengan pembahasan mengenai konsep, prinsip, serta implementasi hukum munakahat dalam kehidupan masyarakat kontemporer. Materi yang disampaikan tidak hanya menyoroti aspek normatif fikih pernikahan, tetapi juga berbagai dinamika sosial yang berkembang di tengah masyarakat modern.

Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan (UIN Gus Dur) terus memperluas jejaring akademik melalui kegiatan kolaboratif antarperguruan tinggi. Pada Rabu, 3 Juni 2026, dosen PAI UIN Gus Dur, Arditya Prayogi, M.Hum., menjadi narasumber kuliah tamu pada mata kuliah Pendidikan Kebudayaan Islam yang diselenggarakan oleh Program Studi PAI UIN Ar-Raniry Banda Aceh.

Kegiatan yang diikuti oleh mahasiswa PAI tersebut mengangkat tema “Perkembangan Islam di Asia Tenggara”. Dalam pemaparannya, Arditya Prayogi menjelaskan dinamika penyebaran Islam di kawasan Asia Tenggara yang berlangsung melalui jalur perdagangan, dakwah, pendidikan, serta interaksi budaya yang berlangsung selama berabad-abad. Ia menekankan bahwa proses islamisasi di kawasan ini berlangsung secara damai dan adaptif terhadap budaya lokal.

Bangun Tradisi Akademik, PAI UIN Gusdur Adakan Workshop Menulis Book Chapter

Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) UIN K.H. Abdurrahman Wahid (UIN Gusdur) Pekalongan menyelenggarakan Workshop SKPI bertajuk “Upgrade Karya Ilmiah Melalui Workshop Menulis Book Chapter Mahasiswa PAI” pada Senin, 26 Mei 2026 di lingkungan FTIK. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya strategis prodi dalam meningkatkan kompetensi akademik dan rekognisi mahasiswa melalui Surat Keterangan Pendamping Ijazah (SKPI).

Workshop menghadirkan narasumber utama, Dr. Nasikhin, M.Pd., Direktur PT. Nasikhin Alami Utama, yang dikenal aktif dalam pengembangan literasi akademik mahasiswa. Dalam pemaparannya, ia menekankan pentingnya keberanian mahasiswa untuk mulai menulis dan mempublikasikan karya ilmiah sejak dini sebagai bekal menghadapi dunia akademik maupun profesional.

Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan kembali menunjukkan komitmennya dalam penguatan akademik melalui kegiatan kuliah tamu lintas kampus. Pada Selasa, 26 Mei 2026, dosen PAI UIN Gus Dur, Mohammad Syaifuddin, menjadi narasumber dalam kuliah tamu mata kuliah Pendidikan Agama Islam di Sekolah yang diselenggarakan di UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto.

Kegiatan yang berlangsung di lingkungan FTIK UIN Saizu tersebut diikuti oleh mahasiswa PAI dengan antusias. Dalam pemaparannya, Mohammad Syaifuddin membahas tantangan sekaligus strategi pembelajaran Pendidikan Agama Islam di sekolah pada era perubahan sosial dan perkembangan teknologi yang semakin dinamis. Ia menekankan pentingnya peran guru PAI dalam menghadirkan pembelajaran yang kontekstual, humanis, dan relevan dengan kehidupan peserta didik.

الصفحة 1 من 29
We use cookies to improve our website. Cookies used for the essential operation of this site have already been set. For more information visit our Cookie policy. I accept cookies from this site. Agree