Menyoal dunia pendidikan ibarat mengarungi sebuah samudera mahaluas, nyaris tanpa batas. Sebagai suatu sistem yang saling terkait, ada banyak komponen yang bermain di dalamnya. Ada banyak faktor yang memengaruhinya, baik berujung pada keberhasilan maupun kegagalan. Akan tetapi, di antara sederet aspek yang turut menentukan berhasil atau tidak berhasilnya pelaksanaan suatu sistem pendidikan, tidak dapat dipungkiri bahwa komponen guru merupakan kata kuncinya.
Sering dikatakan bahwa guru adalah ujung tombak dunia Pendidikan. Guru adalah aktor utama yang sangat menentukan alur sebuah cerita sistem pendidikan. Kualitas pendidikan di suatu sekolah atau lembaga Pendidikan bahkan suatu negara sangat ditentukan oleh kualitas gurunya. Guru yang berkualitas (guru yang hebat) akan menghasilkan sistem pendidikan yang berkualitas dan pada akhirnya akan melahirkan generasi yang berkualitas dan generasi hebat pula.
Guru yang hebat bukanlah guru yang pandai dan memiliki pengetahuan yang luas. Bukan guru yang piawai dalam menjelaskan pelajaran. Bukan pula guru yang terampil membimbing praktik di laboratorium. Lebih dari semua itu, guru yang hebat adalah guru yang mampu memberikan inspirasi kepada murid-muridnya (Sutarto Hadi, 2013).
Dengan kata lain, guru yang hebat adalah guru yang “inspiring teacher” (guru yang menginspirasi atau guru yang inspiratif). Sosok guru yang penuh inspirasi dan sekaligus mampu menginspirasi banyak orang baik bagi murid, sesama guru, dan tenaga kependidikan lainnya. Ia adalah seorang guru yang penuh dedikasi, berkomitmen tinggi dalam tugasnya, selalu berpikir dan bersikap positif, berjiwa kreatif dan inovatif, berakhlak mulai dan mudah bergaul dengan siapa pun, bertindak dengan perhitungan yang matang, dan senantiasa melakukan instropeksi diri.
Guru yang inspiratif adalah guru yang mampu memberikan inspirasi atau ilham. Untuk menjadi guru yang inspiratif, seorang guru harus memiliki modal keterampilan dan pengetahuan yang cukup. Guru yang inspiratif bukan hanya sekedar punya orientasi kurikulum. Guru yang inspiratif memiliki pandangan yang komprehenship. Mereka mampu mengajak siswa-siswanya untuk berpikir out of the box. Sebab muara inspirasi adalah bangkitnya motivasi yang akan mendorong siswa untuk tekun belajar.
Guru inspiratif dituntut bisa memberikan pembelajaran yang kreatif, inovatif, dan tentunya menyenangkan, sehingga memacu siswa aktif dalam pembelajaran. Tidak hanya menjadi teladan, guru inspiratif juga harus bisa membuka wawasan siswa.
Menjadi guru inspiratif memang tidak mudah. Guru harus bisa menginspirasi siswa untuk berpikir, sehingga rasa ingin tahunya selalu berkembang dan terjadi perubahan bagi diri siswa ke arah yang lebih baik (Ana Widyastuti, 2022). Oleh karena itu, diperlukan Langkah-langkah jitu untuk mewujudkannya. Diantaranya:
Pertama, apersepsi. Apersepsi dilakukan untuk pengkondisian kesiapan belajar siswa dalam menerima pelajaran baru atau lanjutan dengan cara mengaitkan pengalaman belajar siswa. Hal ini dilakukan sebagai salah satu alat pemantik untuk memunculkan percikan-percikan api kegairahan belajar siswa sehingga mereka benar-benar siap untuk belajar.
Kedua, eksplorasi. Dengan eksplorasi ini guru mampu mengenal dirinya sendiri baik dari segi kekuatan maupun kelemahan yang terdapat dalam dirinya sendiri.Guru mampu melakukan penjelajahan terhadap dirinya sendiri mengenai kelemahan dan kelebihan yang dimilikinya.
Ketiga, elaborasi adalah proses atau cara untuk mendapatkan sesuatu yang diperlukan ketekunan (diligence) dan kecermatan (accuracy). Guru memiliki kemampuan untuk menjadi pembelajar sejati, sehingga layak disebut sebagai sumber belajar dan fasilitator.
Keempat, konfirmasi memiliki pengertian; afirmasi, penegasan, peneguhan, pengukuhan, penyungguhan atau justifikasi, pembenaran, pembuktian, pengesahan, validasi dan verifikasi. Konfirmasi merupakan wujud penguatan yang menjadi motivasi bagi guru. Guru memiliki kekuatan untuk terus berupaya mencapai kesuksesan yang diinginkan dan yang dicita-citakan.
Kelima, aktualisasi. Tidak ada kesuksesan yang dapat dicapai tanpa tindakan nyata. Perlunya tindakan nyata yang dilakukan oleh guru berdasarkan pikiran, gagasan, rencana dan konsep yang dibuat.
Keenam, refleksi. Seorang guru harus melakukan instropeksi diri (muhasabah) sehingga jelaslah apa yang menjadi keunggulan dan kelemahan yang ada dalam diri.
Ketujuh, renovasi. Perlunya melakukan perbaikan atau pembaharuan bagi siapa saja yang menginginkan kehidupan lebih baik. Gur perlu melakukan perbaikan diri dan pembaharuan diri agar hidupnya lebih baik.
Daftar Pustaka
Ana Widyastuti, Jurus Jitu Menjadi Guru yang Profesional, Produktif, Kreatif, Inspiratif, dan Inovatif di Era Society 5.0, Jakarta: PT Elex Media Komputindo, 2022.
Jamaluddin El-Banjari, Inspiring Teacher#2 (7 Zona Pemantik Sukses Menjadi Guru Inspiratif, Jakarta: PT Elex Media Komputindo Kompas Gramedia, 2013.
Jamaluddin El-Banjari, Inspiring Teacher#I (7 Zona Pemantik Sukses Menjadi Guru Inspiratif, Jakarta: PT Elex Media Komputindo Kompas Gramedia, 2013.
Rima Dwi Novita, Abdul Khobir, Mahiroh Nur Safitri, Moh Eri Irfana, Peranan Motivasi dan Sikap Guru dalam Kegiatan Pembelajaran. Arabia: Jurnal Ilmu Bahasa Arab, 2025.