K2_THE_LATEST
Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan (UIN Gus Dur) berpartisipasi aktif dalam kegiatan Penandatanganan Kerja Sama antara FTIK UIN Gus Dur dan Institut Leimena yang dirangkaikan dengan Kuliah Tamu bertema Moderasi Beragama. Kegiatan tersebut diselenggarakan pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul 08.30–11.00 WIB di Ruang Meeting FTIK dan dihadiri oleh pimpinan fakultas, dosen, serta mahasiswa dari berbagai program studi, termasuk Prodi PAI.
Penandatanganan kerja sama ini menjadi langkah strategis dalam memperkuat sinergi antara dunia akademik dan lembaga yang memiliki perhatian besar terhadap pengembangan nilai-nilai kebangsaan, toleransi, serta moderasi beragama. Melalui kolaborasi tersebut, FTIK UIN Gus Dur bersama Institut Leimena berkomitmen untuk mengembangkan berbagai program pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, serta peningkatan kapasitas sivitas akademika dalam membangun kehidupan beragama yang damai dan inklusif.
Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) UIN K.H. Abdurrahman Wahid (UIN Gusdur) Pekalongan menyelenggarakan Workshop Guru Professional Candidate (WCGP) pada Kamis, 9 Juli 2026. Kegiatan yang diikuti oleh 270 mahasiswa PAI UIN Gusdur ini bertujuan membekali calon guru dengan kompetensi pedagogis yang relevan dengan perkembangan teknologi, khususnya pemanfaatan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam.
Workshop menghadirkan dua narasumber praktisi pendidikan yang berpengalaman. Sesi pertama disampaikan oleh Dedy Cahyono, M.Pd., Kepala SD N Tambakrata Kajen, dengan topik "Optimalisasi AI dan Gamifikasi dalam Pembelajaran Agama." Dalam paparannya, Dedy menjelaskan bahwa guru masa kini perlu mampu mengintegrasikan teknologi dengan strategi pembelajaran yang menyenangkan agar peserta didik lebih aktif dan termotivasi. Menurutnya, "Artificial Intelligence bukanlah pengganti guru, melainkan asisten profesional yang dapat membantu guru merancang pembelajaran yang lebih kreatif, adaptif, dan efisien. Ketika dipadukan dengan gamifikasi, pembelajaran agama dapat menjadi lebih bermakna tanpa kehilangan substansi nilai-nilai keislaman."
Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan (UIN Gusdur) kembali menorehkan kiprah akademik di tingkat nasional. Salah satu dosennya, Mohammad Syaifuddin, M.Pd., dipercaya menjadi narasumber dalam Guest Lecture Nasional bertajuk "Penguatan Kompetensi Pendidik PAI melalui Inovasi Pedagogi dan Pembelajaran Berbasis Konteks" yang diselenggarakan oleh Program Studi Pendidikan Agama Islam, Fakultas Tarbiyah dan Tadris, UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu pada Kamis, 9 Juli 2026. Kegiatan ini diikuti oleh dosen, mahasiswa, serta praktisi pendidikan dari berbagai perguruan tinggi sebagai ruang berbagi gagasan dan penguatan kapasitas pendidik PAI di era transformasi pendidikan.
Dalam forum ilmiah tersebut, Mohammad Syaifuddin, M.Pd. menyampaikan materi mengenai pentingnya membangun pembelajaran Pendidikan Agama Islam yang kontekstual, adaptif, dan berorientasi pada penguatan kompetensi abad ke-21. Menurutnya, pendidik PAI tidak lagi cukup hanya menyampaikan materi keagamaan secara normatif, tetapi juga harus mampu menghubungkan nilai-nilai Islam dengan realitas kehidupan peserta didik melalui pendekatan pedagogi yang inovatif dan bermakna.
Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan (UIN Gusdur) menyelenggarakan kegiatan Review Visi Keilmuan pada Rabu, 8 Juli 2026, bertempat di Ruang Meeting FTIK UIN Gusdur. Kegiatan ini menghadirkan dua pakar pendidikan Islam terkemuka, yaitu Dr. Zaki Gufron dari UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten dan Prof. Dr. Suyadi dari UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, sebagai narasumber sekaligus reviewer dalam penyempurnaan arah keilmuan Program Studi PAI.
Kegiatan ini menjadi bagian dari komitmen Prodi PAI UIN Gusdur dalam memastikan bahwa visi keilmuan yang dimiliki tetap relevan terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, kebutuhan masyarakat, dinamika pendidikan Islam, serta kebijakan pendidikan tinggi nasional. Melalui forum akademik ini, seluruh rumusan visi keilmuan ditelaah secara komprehensif agar mampu menjadi landasan yang kokoh bagi pengembangan kurikulum, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, serta kerja sama akademik di tingkat nasional maupun internasional.
Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan (UIN Gusdur) sukses menyelenggarakan Guest Lecture Internasional pada Selasa, 30 Juni 2026, bertempat di FTIK UIN Gusdur. Kegiatan yang mengusung tema “Revitalising Sufi Value in Islamic Education to Build Integrity in The Digital Era” ini diikuti oleh ratusan peserta yang hadir secara luring maupun daring dari berbagai perguruan tinggi, lembaga pendidikan, dan kalangan akademisi.
Kegiatan diawali dengan sambutan Dekan FTIK UIN Gusdur, Prof. Dr. H. Muslisin, M.Ag. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan apresiasi kepada Program Studi PAI yang terus menghadirkan forum akademik berskala internasional sebagai bagian dari upaya memperkuat budaya ilmiah dan jejaring global di lingkungan kampus. Menurutnya, tema yang diangkat sangat relevan dengan tantangan pendidikan masa kini yang tidak hanya menuntut kecakapan intelektual, tetapi juga penguatan karakter dan integritas peserta didik.
Himpunan Mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam (HMPS PAI) UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan (UIN Gus Dur) sukses menyelenggarakan puncak kegiatan FESPAI (Festival PAI) 2026 berupa Talkshow Nasional Keagamaan pada Sabtu di Ballroom Lantai 3 Gedung Laboratorium Terpadu Kampus 2 UIN Gus Dur. Kegiatan ini mengusung tema “Menata Niat Suci dalam Jejak Pendidikan Tinggi” dan menjadi penutup rangkaian agenda FESPAI yang telah berlangsung dengan berbagai perlombaan dan kegiatan akademik-keagamaan.
Talkshow menghadirkan dua narasumber nasional yang juga merupakan pasangan suami istri sekaligus pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo Kediri, yakni KH. Ahmad Kafabihi Mahrus dan Ning Sheila Hasina. Kehadiran keduanya menjadi daya tarik tersendiri bagi para peserta yang memadati ruang acara sejak pagi hari.
Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan melalui Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) PAI menyelenggarakan Musabaqah Qiraatul Kutub (MQK) Tingkat Umum se-Karesidenan Pekalongan sebagai bagian dari rangkaian Festival PAI (FESPAI) dalam rangka memperingati Hari Lahir (Harlah) HMPS PAI ke-16. Kegiatan ini menjadi wadah pengembangan tradisi keilmuan Islam sekaligus sarana memperkuat budaya literasi kitab kuning di kalangan generasi muda.
Kompetisi yang berlangsung di lingkungan UIN Gus Dur Pekalongan tersebut diikuti oleh puluhan peserta yang berasal dari berbagai pondok pesantren, madrasah, dan perguruan tinggi di wilayah Pekalongan, Pemalang, Batang, dan daerah sekitarnya. Para peserta berada pada rentang usia 16–21 tahun, mewakili generasi muda yang memiliki minat dan kemampuan dalam membaca, memahami, serta menjelaskan kandungan kitab-kitab klasik Islam.
Oleh: Ahmad Ta’rifin
Judul: Institutions and Organizations: (Edisi ke-4)
Penulis: W. Richard Scott
Tahun: 2014
Penerbit: SAGE Publications
Pernahkah Anda bertanya-tanya mengapa dua sekolah dengan kurikulum yang sama bisa memiliki budaya yang sangat berbeda? Atau mengapa perusahaan rintisan (startup) dan kementerian, meski sama-sama mengurus "organisasi", bertindak seolah-olah mereka berasal dari planet yang berbeda? Jawabannya tidak sederhana. Ia tersembunyi dalam apa yang oleh para ahli disebut sebagai “institusi.”
Dalam bukunya yang monumental, Institutions and Organizations: Ideas, Interests, and Identities, W. Richard Scott—sosiolog legendaris dari Stanford University—mengajak kita menyelami dunia tak kasatmata yang justru paling kuat membentuk perilaku organisasi. Buku ini bukanlah bacaan teknis kering. Ia adalah peta konseptual yang memungkinkan kita membaca realitas sosial di sekitar kita dengan kacamata baru.
Tiga Pilar: Lebih dari Sekadar Aturan
Scott memulai dengan sebuah terobosan besar. Selama puluhan tahun, kita terbiasa berpikir bahwa institusi itu identik dengan peraturan tertulis: undang-undang, kebijakan, atau struktur hierarki. Namun, Scott menunjukkan bahwa institusi berdiri di atas “tiga pilar” yang saling menguatkan.
Pilar pertama “regulatif” —inilah yang paling kita kenal: hukum, sanksi, dan mekanisme kepatuhan. Jika Anda melanggar, ada polisi atau pengadilan yang menanti.
Pilar kedua, normatif.” Ini adalah dunia nilai, harapan, dan kewajiban moral. Mengapa seorang guru rela lembur tanpa bayaran tambahan? Bukan karena takut dipecat, melainkan karena ia memegang nilai profesionalisme. Pilar normatif menjelaskan mengapa kita melakukan sesuatu karena "sudah sepantasnya" dilakukan.
Pilar ketiga adalah yang paling menarik sekaligus paling tak terlihat: “kognitif-kultural.” Ini adalah skema berpikir bersama, kerangka makna yang kita serap begitu saja dari lingkungan. Mengapa kita menganggap ijazah penting? Mengapa kita percaya bahwa rumah sakit harus berwarna putih dan tenang? Itu bukan karena hukum atau moral semata, melainkan karena budaya kita telah "mengajarkan" bahwa begitulah realitasnya. Pilar ketiga inilah yang membuat institusi terasa begitu alami, seolah-olah "tidak mungkin lain".
Scott dengan cemerlang menunjukkan bahwa organisasi yang kuat adalah organisasi yang mampu menyelaraskan ketiga pilar ini. Sebuah universitas tidak hanya punya aturan akademik (regulatif), tetapi juga nilai keilmuan (normatif) dan keyakinan bersama bahwa gelar sarjana adalah penanda kompetensi (kognitif-kultural).
Tiga Kekuatan Pendorong: Ide, Kepentingan, dan Identitas
Judul buku ini menyebut tiga kata kunci: Ideas, Interests, and Identities. Scott tidak sekadar memberi judul menarik. Ia membangun argumen bahwa dinamika organisasi selalu digerakkan oleh tiga kekuatan ini.
Pertama, ide”, yang merupakan seperangkat keyakinan dan pengetahuan yang diterima bersama. Misalnya, gagasan bahwa "manajemen berbasis data" adalah cara terbaik mengelola sekolah. Ide ini lahir, menyebar, dan akhirnya dianggap sebagai kebenaran.
Kedua, “kepentingan”, yakni apa yang diuntungkan atau dirugikan oleh aktor-aktor di dalam organisasi. Tidak ada organisasi yang bebas konflik kepentingan. Para profesor ingin riset, rektor ingin akreditasi, mahasiswa ingin nilai bagus—semua saling tarik-menarik.
Ketiga, “identitas” adalah yang paling personal: "siapa kita?" dan "apa makna menjadi bagian dari organisasi ini?" Identitas menjelaskan mengapa alumni suatu kampus begitu fanatik, atau mengapa pegawai negeri merasa memiliki panggilan pengabdian.
Scott tidak menyederhanakan. Ia justru menunjukkan bahwa ketiganya selalu berkelindan. Sebuah kebijakan pendidikan (ide) akan gagal jika tidak mempertimbangkan siapa yang diuntungkan (kepentingan) dan bagaimana kebijakan itu mengubah rasa "kita" (identitas).
Proses Pelembagaan: Bagaimana Sesuatu Menjadi "Alami"
Salah satu konsep paling menggugah dari buku ini adalah institutionalization proses di mana praktik-praktik sosial berubah dari sesuatu yang "aneh" menjadi "begitulah adanya". Scott memetakan proses ini dengan apik.
Ia menunjukkan bahwa pelembagaan tidak terjadi dalam ruang hampa. Ia terjadi dalam apa yang disebut sebagai organizational field (kumpulan organisasi) yang saling terkait pemasok, konsumen, regulator, pesaing yang bersama-sama membangun makna. Misalnya, dunia pendidikan tinggi adalah sebuah field: ada kampus, pemerintah, BAN-PT, dosen, mahasiswa, penerbit jurnal, dan asosiasi profesi. Semua aktor ini, melalui interaksi terus-menerus, menciptakan apa yang dianggap sebagai "praktik baik".
Scott juga memperkenalkan gagasan tentang institutional logics (logika kelembagaan). Setiap field memiliki logika dominannya sendiri. Logika pasar berbeda dengan logika birokrasi, berbeda dengan logika profesional. Ketika dua logika bertabrakan misalnya ketika rumah sakit mulai dikelola seperti perusahaan terjadilah pergulatan yang menarik untuk diamati.
Mengapa Buku Ini Penting bagi Kita?
Bagi pakar dan praktisi manajemen pendidikan, buku ini bukan sekadar bacaan teoretis. Ia adalah pisau bedah untuk membedah realitas sekolah, universitas, dan sistem pendidikan kita. Pertama, buku ini mengajarkan bahwa perubahan organisasi tidak cukup hanya dengan mengubah aturan (regulatif). Kita harus menyentuh nilai (normatif) dan cara berpikir (kognitif). Kedua, Scott mengingatkan bahwa organisasi adalah arena pertarungan kepentingan dan identitas, bukan sekadar mesin pencapai tujuan. Ketiga, buku ini menawarkan optimisme: institusi bisa diubah, karena pada akhirnya ia adalah hasil konstruksi manusia.
Dengan gaya penulisan yang padat namun jelas, Buku Institutions and Organizations telah menjadi rujukan wajib bagi siapa pun yang ingin memahami mengapa organisasi berperilaku seperti yang mereka lakukan. Scott tidak memberi jawaban sederhana, ia memberi kerangka berpikir yang lebih cerdas. Dan itulah, mungkin, kontribusi terbesarnya: membuat kita melihat bahwa di balik gedung, struktur, dan kebijakan, ada dunia ide, kepentingan, dan identitas yang terus bergerak menari dalam ritme yang, jika kita mau mendengarkan, sangat manusiawi.
Kesimpulan singkatnya, buku ini adalah "panduan navigasi" bagi siapa pun yang tersesat dalam kerumitan organisasi modern. Scott berhasil menyajikan teori kelembagaan bukan sebagai menara gading, melainkan sebagai kaca pembesar untuk membaca realitas sehari-hari dari ruang kelas hingga ruang rapat dewan. Sebuah bacaan yang mencerahkan sekaligus membumi.
Sebagai bagian dari upaya memperkaya wawasan akademik mahasiswa, Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan (UIN Gus Dur) menyelenggarakan Kuliah Tamu bertema Psikologi Pendidikan: Berpikir dan Memori pada Senin, 8 Juni 2026. Kegiatan yang berlangsung pukul 11.00–13.00 WIB tersebut diikuti oleh mahasiswa PAI dengan antusias melalui sesi pemaparan materi dan diskusi mendalam.
Kuliah tamu menghadirkan Dr. H. Toifur, S.Ag., M.Si., pakar Psikologi Pendidikan dari UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto. Dalam pemaparannya, beliau menjelaskan bahwa proses berpikir dan memori merupakan dua aspek fundamental dalam pembelajaran yang menentukan bagaimana seseorang menerima, mengolah, menyimpan, dan menggunakan informasi dalam kehidupan sehari-hari maupun proses akademik.