K2_THE_LATEST
Kendal — Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) UIN K.H. Abdurrahman Wahid (UIN Gusdur) resmi melakukan penarikan mahasiswa semester 7 yang telah menyelesaikan Program Magang Prima di Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dispendukcapil) Kabupaten Kendal pada 28 November 2025. Penarikan ini menandai berakhirnya rangkaian aktivitas magang yang berlangsung selama tiga bulan, terhitung sejak September 2025.
| Oleh: Dr. Ahmad Ta’rifin, S.Ag., M.A. |
| Ketua Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) |
| FTIK UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan |
Di tengah gemerlap perbincangan tentang pesantren dan pendidikan formal, terselip sebuah kisah tentang lembaga pendidikan yang setia mengabdi di akar rumput namun kerap luput dari perhatian, yakni Pendidikan Diniyah Takmiliyah (PDT) yang dulu akrab disapa “Sekolah Arab.” Sejak era reformasi bergulir, nasib PDT ibarat anak kandung yang dianaktirikan. Ia hidup dalam bayang-bayang pesantren dan Pendidikan Diniyah Formal (PDF) yang seolah lebih "bergengsi", bahkan kalah bersaing dengan Lembaga Kursus dan Pelatihan (PKBM) dalam hal pengakuan dan dukungan negara. Padahal, kontribusinya dalam membentuk fondasi akhlak dan keilmuan Islam bagi jutaan anak Indonesia tidak bisa dipandang sebelah mata.
Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) UIN K.H. Abdurrahman Wahid (UIN Gusdur) dan Program Studi PAI UIN Salatiga resmi menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) kerja sama di bidang Tridharma Perguruan Tinggi pada Rabu, 26 November 2025. Penandatanganan ini berlangsung di Kampus UIN Salatiga dan menjadi langkah strategis dalam memperkuat kolaborasi akademik, penelitian, dan pengabdian masyarakat antar dua perguruan tinggi Islam.
Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) UIN K.H. Abdurrahman Wahid (UIN Gusdur) melaksanakan kegiatan benchmarking untuk meninjau ulang dan menyelaraskan kurikulum berbasis Outcome Based Education (OBE) di UIN Salatiga pada Rabu, 26 November 2025. Agenda ini menjadi wujud komitmen prodi dalam memperkuat sistem akademik yang berorientasi pada capaian pembelajaran yang terukur serta relevan dengan dinamika pendidikan Islam masa kini.
| Oleh: Prof. Dr. H. Abdul Khobir, M.Ag. |
| Ketua Program Pascasarjana Pendidikan Agama Islam |
| Guru Besar Bidang Filsafat dan Ilmu Pendidikan Islam |
| UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan |
Dalam rangka memperingati Hari Guru Nasional (HGN) yang jatuh pada tanggal 25 November 2025, penulis teringat buku yang dikarang oleh Jamaluddin El-Banjari yang berjudul: “Inspiring Teacher# I dan 2 (7 Zona Pemantik Sukses Menjadi Guru Inspiratif”. Tulisan ini merupakan hasil refleksi dari 2 buku tersebut.
| Oleh: Mohammad Yasin Abidin, M.Pd. |
| Dosen Pendidikan Agama Islam |
| FTIK - UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan |
Dunia pendidikan Indonesia kembali gempar. Pada Oktober 2025, seorang Kepala Sekolah SMAN 1 Cimarga, Lebak, Banten, harus berurusan dengan hukum hanya karena menampar siswa yang kedapatan merokok (Rappler, 2025). Ironisnya, aksi pendisiplinan ini justru berbalik menjadi bumerang. Laporan polisi dari orang tua siswa tersebut kemudian didukung oleh aksi mogok belajar 630 siswa lainnya, memposisikan guru sebagai "tersangka" di ruang kelas yang seharusnya menjadi wilayah otoritasnya.
| Oleh: Rotib Muntaqo, M.Pd. |
| Dosen Pendidikan Agama Islam |
| FTIK - UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan |
Membincang pendidikan Islam transformatif, membincang tentang sebuah konsep pendidikan untuk perubahan positif dalam diri murid. Integritas tinggi serta cara pendekatan guru yang dapat diterima, tentang metode yang tepat agar pembelajaran efektif dan mengena, dapat menjadi alternatif untuk mewujudkan pendidikan Islam transformatif tersebut. Dalam hal ini, seorang guru yang berintegritas akan menunaikan tanggung jawab mengajar dengan jujur, disiplin, dan bertanggung jawab terhadap murid dan lembaga pendidikan tempat ia mengabdi (Kemendikbud, 2020). Sedangkan mengajar dengan hati, guru dapat memahami kebutuhan emosional murid dan menjadikan setiap proses pembelajaran sebagai ruang tumbuh bersama (Ki Hadjar Dewantara, 2013: 18).
| Oleh: Dr. Slamet Untung, M.Ag. |
| Ketua Program Doktoral Pendidikan Agama Islam |
| Pascasarjana UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan |
Tulisan ini terinspirasi oleh salah satu artikel yang pernah ditulis oleh K.H. Abdurrahman Wahid (1999: 111) berjudul “Pesantren, Pendidikan Elitis atau Populis?” Artikel tersebut pertama kali dipublikasikan dalam Prisma No. 2 Tahun V, Maret 1976, dan dipublikasikan kembali dalam buku Prisma Pemikiran Gus Dur oleh Penerbit LKiS Yogyakarta pada tahun 1999. Populisme pesantren dalam tulisan ini dipahami dalam perspektif yang lebih luas yakni tidak hanya dalam perspektif pendidikan tetapi juga sosial dan politik Indonesia.
Semarang – Dr. Hj. Ely Mufidah, M.S.I., dosen dari Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) UIN K.H. Abdurrahman Wahid (UIN Gusdur), menjadi narasumber dalam kegiatan Guest Lecture yang diadakan oleh Jurusan PAI UIN Walisongo Semarang pada Kamis, 20 November 2025. Acara yang digelar melalui Zoom tersebut mengusung topik “Metodologi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam: Pendekatan Kontemporer dan Tantangan Implementasi.” Meskipun dilaksanakan secara daring, kegiatan tetap berlangsung hidup dan komunikatif.