Pendidikan Agama Islam
| Oleh: Zacky Al-Ghofir El-Muhtadi Rizal |
| Mahasiswa Prodi PAI FTIK UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan |
Banjir bandang di Sumatra dan Aceh bukan sekadar bencana alam. Peristiwa ini adalah cermin kegagalan sistemik. Hujan deras memang pemicu, tetapi akar masalahnya adalah deforestasi, alih fungsi lahan, dan eksploitasi sumber daya yang tak terkendali. Jika ditarik ke sumbernya, hal ini bisa berakar dari sistem pendidikan kita. Yang ditakutkan dalam sistem pendidikan, justru melahirkan generasi yang mahir menghitung keuntungan ekonomi, tetapi buta akan hubungan antara kerusakan hutan dengan banjir yang menghancurkan ribuan rumah, fasilitas umum, hingga hilangnya nyawa. Langkah yang disarankan adalah menggabungkan kesadaran lingkungan ke dalam setiap mata pelajaran dan aktivitas sekolah untuk membangun ketangguhan ekologis.
Kurikulum saat ini masih terjebak dalam logika lama, perlu adanya inovasi dalam kepekaan lingkungan. Pelajaran ekonomi mengagungkan pertumbuhan PDB tanpa membahas biaya ekologis: alih fungsi hutan di Sumatra untuk perkebunan monokultur (sawit) atau pertambangan meningkatkan pendapatan daerah, tetapi menghilangkan penyangga alami yang menyerap air hujan. Akibatnya, ketika hujan deras datang, tanah gundul tak mampu menahan air, dan banjir pun meluluhlantakkan Aceh dan Sumatra. Sains pun diajarkan secara teoritis: siswa menghafal siklus air, tetapi tidak diajak melihat bagaimana penebangan liar atau pembiasaan pembuangan sampah di hulu Sungai mengancam keselamatan warga di hilir. Tanpa pemahaman sebab-akibat ini, lulusan kita akan terus menjadi bagian dari masalah, bukan solusi.
Langkah ini dimulai dari kelas. Dalam matematika, siswa bisa menghitung berapa hektar hutan yang perlu dipulihkan untuk mengurangi risiko banjir di wilayah mereka, atau menganalisis data curah hujan dan alih fungsi lahan selama 10 tahun terakhir. Pelajaran sejarah perlu mengupas kasus seperti banjir besar yang sudah terjadi menelusuri akar ekologisnya bagaimana keserakahan ekonomi menggerus hutan lindung.
Transformasi kurikulum harus diiringi aksi nyata di lingkungan sekolah. Di daerah rawan banjir, sekolah bisa mengubah halaman menjadi biopori dan taman resapan untuk menyerap air hujan. Program daur ulang sampah juga vital: limbah plastik yang menyumbat selokan adalah penyebab utama banjir di perkotaan. Siswa dilibatkan langsung dari memilah sampah hingga mengomposkan sisa makanan sehingga mereka memahami bahwa tindakan kecil mereka bisa berdampak besar.
Tujuan akhir adalah melahirkan generasi yang mengukur kesuksesan bukan hanya dari uang, tetapi dari kemampuan menjaga alam. Generasi yang mempunyai kecerdasan lingkungan. Seorang calon birokrat harus pahami bahwa menyetujui izin tambang di kawasan hutan lindung berarti mengorbankan keselamatan ribuan warga. Seorang calon pengusaha perlu tahu bahwa bisnisnya bisa berkelanjutan jika mengadopsi praktik ramah lingkungan. Dengan Edu-Ekologi, kita menanamkan prinsip: profit sejati adalah ketika ekosistem tetap utuh
Banjir di Sumatra dan Aceh adalah peringatan keras. Jika pendidikan masih mengabaikan keterkaitan antara manusia dan alam, bencana akan berulang. Sekolah harus menjadi garda terdepan: mengajarkan anak bukan hanya cara menghitung laba, tetapi juga cara menghitung jejak air water footprint dari setiap keputusan mereka. Langkah Hijau di meja sekolah adalah investasi untuk menghemat triliunan rupiah yang selama ini habis untuk tanggap darurat bencana. Dengan Semangat Edu-Ekologi, kita bisa memastikan bahwa hari ini, di kelas-kelas di Indonesia, sedang lahir generasi yang tak hanya bisa membaca buku, tetapi juga pandai membaca tanda-tanda alam sekitar.
Daftar Pustaka
Ahmad, Maghfur. Pendidikan Lingkungan Hidup dan Masa Deopn Ekologi Manusia. Forum Tarbiyah. Vol. 8, No. 1, Juni 2010
Temuan Terkini soal Pembalakan Liar di Hutan Sumatra Penyebab Banjir CNN Indonesia. Senin, 08 Des 2025 09:06 WIB
| Oleh: Imam Prayogo Pujiono, M.Kom. |
| Dosen Mata Kuliah Teknologi Informasi Pada Prodi Pendidikan Agama Islam |
| FTIK - UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan |
Kemunculan generative AI seperti ChatGPT dan model sejenis memicu gelombang kecemasan baru di lingkungan pendidikan. Kekhawatiran yang paling sering dikemukakan adalah potensi kecurangan dalam tugas dan ujian, hilangnya orisinalitas, ketergantungan pada jawaban instan, serta risiko menurunnya kemampuan berpikir kritis. Di berbagai institusi, respons awal cenderung defensif: larangan penggunaan, ancaman sanksi, hingga kepercayaan berlebihan pada alat pendeteksi teks AI, meskipun riset dan lembaga penjamin mutu menunjukkan bahwa pendeteksian tersebut tidak pernah benar-benar pasti (Cotton dkk., 2024). Fenomena ini sejatinya bukanlah hal baru. Dua dekade lalu, Google pernah diperlakukan dengan kecurigaan serupa: dianggap jalan pintas malas, sumber plagiarisme massal, dan ancaman bagi tradisi riset serius berbasis perpustakaan (buku).
| Oleh : Dr. Rahmi Anekasari, M.Pd.I |
| Dosen UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan |
Fenomena bullying di sekolah semakin menjadi perhatian serius dalam dunia pendidikan Indonesia. Berbagai laporan menunjukkan peningkatan kasus kekerasan verbal, fisik, dan digital antar siswa yang berdampak negatif terhadap perkembangan psikologis peserta didik. Dalam konteks pendidikan Islam, perilaku tersebut jelas bertentangan dengan nilai-nilai kasih sayang (rahmah), penghormatan terhadap sesama, dan prinsip ukhuwah insaniyah. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan manajerial yang lebih humanis dan spiritual, yakni melalui penerapan manajemen pendidikan berbasis kurikulum cinta.
Tiara Ananda Maulidia (NIM 20122011), mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) UIN Gusdur, resmi tercatat sebagai wisudawan termuda pada pelaksanaan wisuda FTIK UIN Gusdur tahun 2025. Tiara berhasil menyelesaikan studi Sarjana Pendidikan pada usia 20 tahun 6 bulan, menjadikannya salah satu lulusan dengan waktu studi paling cepat dan prestasi yang menonjol di antara rekan-rekannya. Pencapaian ini menunjukkan kombinasi kedisiplinan, ketekunan, dan strategi belajar yang efektif selama masa perkuliahan, terbukti, lulusan termuda tersebut dapat meraih IPK yang tinggi, yakni 3,85.
Salma Selfiyana (NIM 20122002), mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) di UIN Gusdur, berhasil mencatatkan diri sebagai wisudawan dengan masa kuliah tercepat pada pelaksanaan wisuda FTIK tahun 2025. Ia menuntaskan studi sarjananya hanya dalam waktu 3 tahun 2 bulan, jauh lebih cepat dari rata-rata lama studi mahasiswa pada umumnya. Prestasi ini menjadi sorotan karena tidak hanya menunjukkan kemampuan akademik yang kuat, tetapi juga kedisiplinan dalam menyelesaikan setiap tahapan perkuliahan. Tak hanya cepat, Salma juga menuntaskan kuliahnya dengan IPK yang nyaris sempurna, yakni 3,89.
Dir Dian (NIM 2120340), mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) di UIN Gusdur, menjadi salah satu wisudawan yang menarik perhatian pada pelaksanaan wisuda FTIK tahun 2025. Ia berasal dari wilayah 3T (Terdepan, Terpencil, dan Tertinggal) di Papua, sebuah latar yang tidak menghalanginya untuk menuntaskan pendidikan tinggi dengan hasil membanggakan. Perjalanan pendidikannya mencerminkan semangat besar untuk menembus keterbatasan geografis dan akses pendidikan.