Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan menyelenggarakan kegiatan PAI EXPO di SMAN 1 Talun sebagai upaya strategis memperkenalkan prodi kepada siswa-siswi kelas akhir. Kegiatan ini dirancang tidak hanya sebagai ajang promosi akademik, tetapi juga sebagai ruang inspiratif yang mempertemukan dunia pendidikan menengah dengan perguruan tinggi secara langsung dan komunikatif.
K2_THE_LATEST
Pekalongan, 5 Februari 2026 - Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) UIN K.H. Abdurrahman Wahid (UIN Gusdur) menyelenggarakan kegiatan pembekalan Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) bagi mahasiswa. Kegiatan ini menjadi tahap awal sebelum mahasiswa diterjunkan langsung ke sekolah dan lembaga pendidikan mitra.
PPL Prodi PAI FTIK UIN Gusdur direncanakan akan dilaksanakan pada 9 Februari hingga 2 Juni 2026. Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan pengalaman nyata kepada mahasiswa dalam mengaplikasikan kompetensi pedagogik, profesional, sosial, dan kepribadian yang telah diperoleh selama perkuliahan.
| Oleh: Jainul Arifin, M.Ag. |
| Dosen Prodi Pendidikan Agama Isalm FTIK UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan |
Mahasiswa seringkali hanya dipahami sebagai pelajar di jenjang perguruan tinggi. Padahal, makna yang lebih hakiki adalah seorang intelektual yang tidak hanya menguasai disiplin ilmunya, tetapi juga mampu mengaplikasikan, menginovasi, dan mengkritisi pengetahuannya untuk menjawab tantangan di masyarakat. Esensi menjadi mahasiswa terletak pada kapasitasnya untuk menjadi agen perubahan (agent of change)—pemberi solusi atas persoalan sosial di sekitarnya (Napsiyah dkk., 2023).
Peran ini menuntut mahasiswa memiliki kesadaran moral, kepekaan sosial, dan keberanian untuk membayangkan serta mewujudkan kehidupan yang lebih baik. Namun, realitanya, tantangan zaman yang serba pragmatis kerap memudarkan semangat ini. Sebagai contoh nyata, mari kita lihat fenomena pelanggaran lalu lintas yang akut di Kota Pekalongan. Masalah ini bukan hanya urusan hukum, tetapi juga cermin dari krisis kesadaran kolektif yang membutuhkan intervensi nalar kritis dan gerakan moral—persis di ranah dimana mahasiswa idealis seharusnya berperan.
Data empiris menunjukkan betapa seriusnya masalah ini. Dalam kurun sepekan pertama Operasi Zebra Candi 2025 (17-24 November 2025), Satlantas Polres Pekalongan mencatat total 1.675 kasus pelanggaran, yang terdiri dari 313 tilang manual, 485 teguran, dan 877 tilang elektronik (ETLE) (Humas Polri, 2026). Kasat Lantas AKP Rony Hidayat menyatakan data ini mencerminkan masih minimnya kesadaran masyarakat untuk tertib.
Fenomena ini sering dinormalisasi sebagai hal “biasa”. Padahal, dampaknya sangat nyata: meningkatnya kerawanan kecelakaan, potensi konflik sosial di jalan raya, dan menguatnya budaya “main hakim sendiri”. Di sinilah letak persoalannya: ketika pelanggaran dinormalisasi, yang terkikis adalah fondasi tertib sosial dan penghargaan terhadap hukum. Kondisi ini memanggil hadirnya suatu kekuatan yang mampu mendorong perubahan perilaku melalui kesadaran, bukan sekadar penindakan.
Mahasiswa sebagai ‘Kekuatan Moral’
Lantas, mengapa mahasiswa yang diharapkan menjadi ujung tombak perubahan? Setidaknya ada dua alasan mendasar. Pertama, mahasiswa menempati posisi sebagai kaum intelektual. Proses pendidikan tinggi membekali mereka tidak hanya dengan keahlian teknis, tetapi juga dengan cara berpikir kritis dan berbagai teori untuk menganalisis realitas. Sebagaimana dikemukakan oleh Paulo Freire, tujuan pendidikan adalah membangkitkan conscientização atau kesadaran kritis, agar individu peka terhadap ketidakadilan di sekitarnya (Qomarudin, 2021). Selain itu, dalam struktur sosial, mahasiswa kerap dipandang sebagai kelompok elit muda yang akan memasuki lapisan atas masyarakat, sehingga memiliki pengaruh dan horison pemikiran yang lebih luas (Akbar, 2016).
Kedua, gerakan mahasiswa sering diasosiasikan dengan “perjuangan moral yang murni”. Berbeda dengan kelompok kepentingan lain, mahasiswa dianggap relatif belum terbebani oleh kepentingan politik praktis atau beban ekonomi keluarga yang berat. Ruang geraknya didorong oleh ketidakpuasan intelektual dan moral ketika melihat kesenjangan antara teori kebenaran yang dipelajari di kampus dengan realitas yang dihadapi di masyarakat. Gerakan mereka pada dasarnya adalah aktualisasi nilai-nilai ideal untuk memperbaiki lingkungan (Akbar, 2016).
Idealis Bukan Hanya di Pikiran, Tapi ke Aksi Nyata
Apa itu sebenarnya paham idealis? Dalam filsafat, idealisme menekankan bahwa ide atau konsep adalah hakikat realitas yang paling utama, sementara realitas material adalah manifestasi yang tidak sempurna. Bagi Plato, segala sesuatu di dunia fisik ini adalah bayangan dari “Ide” yang abadi dan sempurna di dunia ide (Petrus, 2008). Pemikiran Hegel juga menegaskan bahwa yang konkret justru adalah jaringan ide atau hubungan logis, bukan objek material yang kasat mata (Zaprulkhan, 2018).
Kaitannya dengan mahasiswa adalah bagaimana konsep atau ide kebenaran itu diwujudkan?. Mahasiswa yang berpaham idealis tidak akan berdiam diri ketika menyaksikan realitas yang bertentangan dengan prinsip-prinsip kebenaran yang mereka pahami. Misalnya, konsep “ketertiban”, “keselamatan bersama”, dan “kepatuhan hukum” adalah ide-ide mulia. Melihat tingginya pelanggaran lalu lintas—yang jelas-jelas mengancam ide keselamatan bersama—maka mahasiswa idealis akan terdorong untuk mengubah realitas buruk itu agar mendekati idealnya.
Lalu, apa yang bisa dilakukan secara kolektif oleh mahasiswa? Berikut adalah tiga bentuk intervensi yang mungkin:
- Edukasi Kreatif dan Kampanye Digital. Mahasiswa dapat memanfaatkan keahlian literasi digital untuk mengubah kampanye keselamatan lalu lintas menjadi konten yang menarik dan relatable. Misalnya, membuat serial infografis atau video pendek (reels) yang mengupas bahaya micro-sleep, pentingnya lampu sein, atau etika menggunakan jalan. Mengangkat kisah nyata korban kecelakaan juga dapat menyentuh sisi empati publik, membangun kesadaran dari dalam, bukan hanya karena takut pada sanksi.
- Program "Campus Road Safety" sebagai Role Model. Sebelum mengajak masyarakat luas, kampus harus menjadi contoh tertib. Mahasiswa dapat membentuk tim road safety untuk mengedukasi sesama civitas akademika tentang rambu, pentingnya helm standar, dan tata cara parkir yang benar. Mereka juga dapat mengadvokasi perbaikan infrastruktur kampus, seperti trotoar yang nyaman dan ramah pejalan kaki, kepada pihak universitas.
- Intervensi Sosial Langsung (Community Outreach). Gerakan perlu turun ke masyarakat. Mahasiswa dapat berkolaborasi dengan Satlantas Polres atau instruktur safety riding profesional untuk menyelenggarakan Safety Riding Workshop. Sasaran utamanya adalah kelompok rentan dan produktif seperti ojek online, ibu-ibu pengendara, dan pelajar SMA. Edukasi ini harus praktis, menyasar kebutuhan harian, dan menekankan aspek tanggung jawab sosial sebagai pengguna jalan.
Merawat Idealisme sebagai Jati Diri
Merindukan mahasiswa berpaham idealis bukanlah angan-angan kosong. Ia adalah panggilan untuk mengembalikan khittah mahasiswa sebagai kekuatan moral dan intelektual bangsa. Fenomena pelanggaran lalu lintas di Pekalongan hanyalah satu dari banyak contoh realitas yang membutuhkan sentuhan nalar kritis dan aksi nyata.
Dengan bekal teori, posisi sosial yang unik, dan energi moral yang masih murni, mahasiswa memiliki modal besar untuk menjadi katalis perubahan. Idealisme bukan sekadar memuja konsep di alam pikiran, tetapi keberanian untuk menjadikan ide-ide kebenaran itu sebagai acuan untuk mengubah realitas menjadi lebih baik, dimulai dari lingkungan terdekat. Pada akhirnya, mahasiswa idealislah yang akan menjaga api progresivitas dan kepedulian sosial dalam dinamika bangsa.
Daftar Pustaka
Akbar, I. (2016). Demokrasi dan gerakan sosial (Bagaimana gerakan mahasiswa terhadap dinamika perubahan sosial). Jurnal Wacana Politik, 1 (2), 97-108.
Humas Polri. (2026, 24 Januari). Sepekan operasi zebra candi 2025 di Pekalongan, pelanggaran tembus 1.600 kasus, ETLE dominasi penindakan. https://humas.polri.go.id/news/detail/2188250-sepekan-operasi-zebra-candi-2025-di-pekalongan-pelanggaran-tembus-1600-kasus-etle-dominasi-penindakan
Napsiyah, S., Maemunah, S., & Rizki, M. (2023). Peran mahasiswa sebagai agent of change dalam mengembangkan potensi pemuda di Kampong Krajan Desa Simpang. Jurnal Kesejahteraan dan Pelayanan Sosial, 4 (2), 120-135.
Petrus, L. S. (2008). Petualangan intelektual: Konfrontasi dengan para filosof dari zaman Yunani hingga zaman modern (Cet. 5). Kanisius.
Qomarudin, A. (2021). Hilangnya kesadaran diri mahasiswa untuk kuliah (Konsep conscientizacao {kesadaran} sebagai tujuan pendidikan Paulo Freire). PENSA: Jurnal Pendidikan dan Ilmu Sosial, 3 (1), 56-67.
Zaprulkhan. (2018). Filsafat modern Barat: Sebuah kajian tematik. IRCiSoD.
Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan terus memperkuat eksistensi dan branding akademiknya melalui audiensi bersama mahasiswa penerima Kartu Indonesia Pintar (KIP), Jumat, 23 Januari 2026. Kegiatan ini menjadi langkah strategis Prodi PAI dalam membangun sinergi antara pimpinan akademik dan mahasiswa sebagai ujung tombak pengenalan prodi di tengah masyarakat.
Template Settings