K2_THE_LATEST

Prestasi Gemilang: Rikzan Murtafi Raih Lulusan Terbaik Prodi PAI

Mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) UIN Gusdur, Rikzan Murtafi (2121138), dinobatkan sebagai lulusan terbaik Prodi PAI pada Yudisium Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) UIN Gusdur yang digelar pada 7 November 2025. Penghargaan ini diberikan setelah Rikzan berhasil menorehkan prestasi akademik yang konsisten dengan raihan IPK 3,96, aktivitas organisasi yang produktif, serta kontribusi pengabdian masyarakat yang dinilai menonjol selama masa studinya. Ia menjadi satu di antara mahasiswa yang menampilkan performa akademik dan karakter kepemimpinan sekaligus.

Refleksi Arah Pendidikan, PAI UIN Walisongo Undang Dosen UIN Gusdur sebagai Narasumber

Semarang – Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) UIN Walisongo Semarang menggelar kuliah tamu pada Senin, 1 Desember 2025, dengan menghadirkan Jainul Arifin, M.Ag., dosen PAI UIN K.H. Abdurrahman Wahid (UIN Gusdur). Kegiatan ini menjadi bagian dari penguatan wawasan keilmuan pada mata kuliah Filsafat Ilmu Pendidikan.

Tuntaskan Magang Prima, Mahasiswa PAI UIN Gusdur Raih Pengalaman Layanan Publik di Kendal

Kendal — Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) UIN K.H. Abdurrahman Wahid (UIN Gusdur) resmi melakukan penarikan mahasiswa semester 7 yang telah menyelesaikan Program Magang Prima di Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dispendukcapil) Kabupaten Kendal pada 28 November 2025. Penarikan ini menandai berakhirnya rangkaian aktivitas magang yang berlangsung selama tiga bulan, terhitung sejak September 2025.

Apa Kabar Pendidikan Diniyah Takmiliyah?

Oleh: Dr. Ahmad Ta’rifin, S.Ag., M.A.
Ketua Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI)
FTIK UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan

 

Di tengah gemerlap perbincangan tentang pesantren dan pendidikan formal, terselip sebuah kisah tentang lembaga pendidikan yang setia mengabdi di akar rumput namun kerap luput dari perhatian, yakni Pendidikan Diniyah Takmiliyah (PDT) yang dulu akrab disapa “Sekolah Arab.” Sejak era reformasi bergulir, nasib PDT ibarat anak kandung yang dianaktirikan. Ia hidup dalam bayang-bayang pesantren dan Pendidikan Diniyah Formal (PDF) yang seolah lebih "bergengsi", bahkan kalah bersaing dengan Lembaga Kursus dan Pelatihan (PKBM) dalam hal pengakuan dan dukungan negara. Padahal, kontribusinya dalam membentuk fondasi akhlak dan keilmuan Islam bagi jutaan anak Indonesia tidak bisa dipandang sebelah mata.

We use cookies to improve our website. Cookies used for the essential operation of this site have already been set. For more information visit our Cookie policy. I accept cookies from this site. Agree